This My Trip, Goes To Bandung !

img_20150615_074906Setiap kegiatan studi banding, kunjungan industri, atau bahkan treveling, pasti dibenak kita yang pertama kali dipikirkan adalah biaya. Pandangan kita terhadap biaya nampaknya tidak sesuai dengan kenyataan. Karena biaya yang kita pikirkan bukan biaya ditempat dimana kita melakukan kunjungan industri, studi banding atau traveling. Semisal contoh, harga seporsi makanan sayur dan lauk pauk (ayam) serta minum (teh/es teh) di Solo berkisar antara Rp. 10.000,- s.d Rp. 12.000,-. Itupun tergantung warungnya. Kalau “poekwe” sih murah. Tapi kita tidak sadar, bahwa makanan dengan porsi sama, di Bali bisa sampai Rp.35.000,- , di Jakarta bisa Rp.25.000,- atau mungkin yang lainnya. Bakso di Monas aja Rp.25.000,-. Biasanya pemikiran ini terjadi bagi orang-orang yang jarang sekali melakukan perjalanan. Wajar memang, harga tergantung kultur, sumber makanan sampai dengan tingkat pendapatan di suatu daerah tertentu.

Sedikit cerita di tahunn 2015 yang lalu waktu saya masih kuliah di Universitas Islam Indonesia. Diwajibkan setiap angkatan untuk melakukan studi banding sesuai konsentrasinya (konsentrasi saya Forensika Digital) dan sesuai jadwalnya. Jika waktu yang ditentukan tidak bisa ikut, dan ikut di angkatan berikutnya, maka harus bayar sendiri. Ternyata, SPP sudah include Studi Banding dan biaya Studi Banding dihitung per-kepala per-angkatan. Mau tidak mau harus ikut. Okelah….. No Problem. Continue reading

Advertisements

Tidak Ada Alasan Tidak Punya Buku

Mahasiswa merupakan tonggak utama penerus bangsa. Dimana harus menjadi sosok pemimpin dan pembawa perubahan di masyarakat. Tentunya perubahan yang lebih baik yang sesuai dengan norma-norma yang ada. Seringkali mahasiswa mengeluh dengan kewajibannya, yaitu belajar. Harus baca inilah, harus baca itulah, harus mengerjakan ini itu dan sebagainya. Seringkali mahasiswa mengharapkan sesuatu yang tidak sepadan dengan apa yang dilakukannya. Menginginkan nilai baik, tetapi tidak ingin bersusah payah mendapatkannya. Ada banyak cara untuk menuju ke Roma (kata pepatah). Continue reading

Mahasiswa Copy Paste ( “yang ngaku mahasiswa wajib baca” )

Duhai kasihku, rasanya sakit hatiku ketika kau comot sana comot sini tanpa ada yang tau. Kau diamkan aku begitu tau komputer bisa memenuhi apa maumu. Apalagi kau gandeng si cantik jelita Google Search yang dapat kelarkan tugasmu. Kadang kau tak sekalipun menyentuhku sampai diriku berdebu, dan itulah aku, Buku.” (Puisi “Jika Buku Bisa Bicara” by Hendro Wijayanto – 2014)

Mahasiswa merupakan kaum intektual yang cerdas dan terdidik. Namun, apa jadinya jika kalangan mahasiswa banyak melakukan kebiasaan mengcopy paste ?. Bagi kalangan mahasiswa kebiasaan mengcopy paste tidak lagi menjadi sesuatu yang asing. Sebab sekarang ini, kebiasaan mengcopy paste telah menjadi satu- satunya jalan pintas untuk dapat mengerjakan tugas kuliah tanpa harus banyak berpikir. Perkembangan teknologi yang semakin pesat dengan memberikan segala kemudahan serta keterbukaan terhadap informasi yang seluas- luasnya adalah penyebab langgengnya kebiasaan mengcopy paste. Continue reading

Bukan Mahasiswa Kalau Tidak Mau Membaca dan Menulis

Ayo Membaca !

Membaca, bagi sebagian mahasiswa merupakan sesuatu yang tabu untuk dilakukan. Membaca jurnal atau buku teks? Membaca novel yang merupakan karangan fiksi saja jarang. Apalagi harus menyentuh buku-buku tebal yang membahas materi serius, belum lagi buku tersebut berbahasa asing.

Membaca, pada kenyataannya sering dilakukan menjelang ujian. Bahkan ada yang melakukannya secara sks, atau sistem kebut semalam. Alih-alih ingin memahami sebanyak mungkin yang dibaca, membaca justru bikin buyar karena dilakukan dengan tidak fokus. Karena panik sudah dekat ujian. Kalau sudah seperti itu, biasanya nih, kebanyakan mahasiswa memilih untuk tarik selimut, kemudin mimpi indah, mencari ketenangan ketimbang harus pusing dengan membaca.

Padahal seharusnya, yang namanya mahasiswa harus dekat dengan buku dan literature literature yang sejenis, mahasiswa sebagai seorang akademisi sudah selayaknya menyantap buku buku yang akan menambah pengetahuan dan wawasanya, namun sekarang jangankan untuk membaca, membawa buku saja sudah merupakan beban bagi sebagian mahasiswa, dikarenakan tebalnya ukuran dan beratnya buku itu. Hal yang seharusnya tidak perlu terjadi Continue reading