Bukan Mahasiswa Kalau Tidak Mau Membaca dan Menulis

Ayo Membaca !

Membaca, bagi sebagian mahasiswa merupakan sesuatu yang tabu untuk dilakukan. Membaca jurnal atau buku teks? Membaca novel yang merupakan karangan fiksi saja jarang. Apalagi harus menyentuh buku-buku tebal yang membahas materi serius, belum lagi buku tersebut berbahasa asing.

Membaca, pada kenyataannya sering dilakukan menjelang ujian. Bahkan ada yang melakukannya secara sks, atau sistem kebut semalam. Alih-alih ingin memahami sebanyak mungkin yang dibaca, membaca justru bikin buyar karena dilakukan dengan tidak fokus. Karena panik sudah dekat ujian. Kalau sudah seperti itu, biasanya nih, kebanyakan mahasiswa memilih untuk tarik selimut, kemudin mimpi indah, mencari ketenangan ketimbang harus pusing dengan membaca.

Padahal seharusnya, yang namanya mahasiswa harus dekat dengan buku dan literature literature yang sejenis, mahasiswa sebagai seorang akademisi sudah selayaknya menyantap buku buku yang akan menambah pengetahuan dan wawasanya, namun sekarang jangankan untuk membaca, membawa buku saja sudah merupakan beban bagi sebagian mahasiswa, dikarenakan tebalnya ukuran dan beratnya buku itu. Hal yang seharusnya tidak perlu terjadi

Jadi singkat cerita, sebenrenya minat baca dikalangan mahasiswa masih terbilang sangat rendah nih, mahasiswa masih males malesan untuk buka buku, apalagi buat baca. Padahal mahasiswa sebagai kaum terdidik selayaknya membaca untuk kemajuan bangsa. Yah tapi apa boleh dikata, ternyata para mahsiswa masih belum melek nih.

Ayo cari tau Kenapa mahasiswa males buat membaca.

Mengapa minat baca dikalangan mahasiswa rendah? Atau pertanyaan yang paling sesuai mengapa mahasiwa males buat membaca? sebenernya banyak penyebabnya, baik itu dari lingkungan ataupun dari dalam diri mahasiswa itu sendiri, ini dia beberapa penyebab rendahnya minat baca dikalangan mahasiswa,

Pertama, sistem pembelajaran yang belum bisa memaksa  mahasiswa membaca buku, mencari informasi, atau mencari lebih dari apa yang diajarkan. Seharusnya pendidik mampu mebuat mahasiswa penasaran sehingga timbul ras ingin tahu dan sikap kritis, dan dari situ akan muncul keinginan untuk mebaca.

Kedua, terlalu banyaknya jenis hiburan, permainan (games), dan tanyangan televisi yang membuat kiat sibuk sehingga tidak ada waktu untuk membaca, apalagi dengan segalam macem media social yang menjamur sekrang ini, mulai dari frrenstre sampai dengan twitter, kit lebih  aysik chating berjam jam dari pada membaca, mata kita lebih tahan liatin TL daripada mantengin buku. Yah, update dulu lah baca buku mah belakangan. Coba aja liat, lamaan mana mata kita di depan buku apa di depat gadget? Ayo jangan boong..

Ketiga, banyaknya tempat hiburan untuk menghabiskan waktu, atau nama kerennyaKongko Kongko,seperti taman rekreasi, tempat karaoke, mall, dan masih banyak lagi mungkin yang paling terkenal 7-11 yah.  Sebenernya bagus ke tempat hiburan gitu, untuk menghilangkan stress dan sekaligus rekreasi, tapi kalau ke sananya setiap hari lain ceritanya kan, tempat tempat hiburan udah jadi kampus kedua untuk para mahasiswa.

Keempat , membaca masih dianggap sebagai hal yang tabu, bahkan sebutan untuk orang yang suka membaca buku saja, terkesan kumuh dan jorok. KUTU BUKU. Dan budaya membaca yang di anggap engga gaul dan lebih dekat dengan anak anak yang cupu. Pembaca buku didentikkan dengan mereka yang penampilanya aneh, berkacamata tebal dan Kuper. Sebuah diskriminasi memang. Yah, tapi itulah realitanya.

Kelima, penyebab terakhir ini mungkin lebih kepada diri pribadi, yaitu penyakit lima huruf yang susah banget dihilagin, kecuali jika ada kemauan dan dorongan dari dalam diari, yaitu MALAS.

Dari sekian banyak alasan rendahnya minat baca. Semuanya kita kembalikan pada diri pribadi masing masing untuk menyadari betapa pentingnya manfaat membaca itu sendiri. Kalu merasa membaca itu penting lakukan, tapi saya bakaln coba jelasin ke temen temen manfaat manfaat dari membaca, Chekidot..

Membaca, Penting ga sih?

Mungkin temen temen sudah sering mendengarkan kata kata berikut ini, “membaca bisa membuka jendela dunia” pepatah ini bener loh. Makin banyak kita membaca, semakin banyak kita tahu. Kalu kita artikan secara tekstual, kita akan dapati bahwa dengan membuka jendela kita akan mengetahui hal hal yang ada di luar sana, begitupun dengan membuka buku (baca; membaca) kita dapat melihat luasnya dunia, bahkan kita dapat memegang dunia itu.  Misalnya, dengan kiat membaca buku kita bisa tahu kondisi lingkungan dan budaya dari kota paris, tanpa harus kita langsung melihatnya. Pepatah lain mengatakan, jika ingin mengenal dunia maka membacalah, dan jika ingin dikenal dunia maka menulislah, jika belum mampu menjadi seorang penulis, maka baca saja.

Membaca juga ada kaitannya dengan prestasi belajar dikampus, kalau mahasiswa banyak membacaba, pasti dia akan memiliki banyak informasi dan otomatis akan banyak tahu, kalau udah banyak tahu pasti pinterr dong, dapet nilai A, IPK nya 3 keatas mau ga tuh?. Tapi kalau jarang baca mau dapet niali bagus, ngimpi..

Pentingnnya membaca bukan hanya di tunjukkan dri sebuah pepatah “membaca dapat membuka jendela dunia” dan buat dapetin nilai bagus doang lho.. Membaca juga adalah perintah agama yang jika mana kita tingggalkan kita akan berdosa, ga percaya? Wahyu yang pertama diturunkan kepada rasulullah saw adalah surat al alaq yang berisikan tentang perintah untuk membaca, dan dalam kaidah fiqiyah hukum asal perintah adalah wajib, yang mana jika dikerjakan berpahala dan  jika di tinggalkan berdosa. Nah lho.. masih juga males buat baca? ayo mulai sekarang baca buku mu.

Kemudian Kebiasaan membaca sering pula dikaitkan dengan karakter seorang pemimpin (Leader, Amir). A good leader is a reader. Seorang pemimpin besar adalah mereka yang banyak membaca. Segudang informasi dapat membentuk karakter seseorang menjadi pemimpin hebat, dikarenakan banyak pengetahuannya sehingga akan di dengarkan oleh teman temannya, mampu menyelesaikan berbagai macam persoalan, dan lebih kritis tentunya. Faktanya, negara maju seperti Jepang telah menjadikan membaca sebagai budaya positif masyarakatnya, dimulai sejak restorasi Meiji. Selain pekerja keras, Jepang juga dikenal negara yang memiliki masyarakat “kutu buku” terbesar. Setiap tahun tak kurang 1 milyar buku dicetak. Makanya orang orang jepang punya kemampuan untuk memimpin yang baik.

Nih, yang terakhir pasti temen temen pada ga tau, selain untuk menambah wawasan, membaca Juga bisa membuat awet  muda. Menurut salah seorang ahli  saraf yaitu  DR.C. Edward Coffey, sebenernya membaca itu mampu mencegah kerusakan saraf-saraf otak. Sehingga dapat memperlambat penuaan. Membaca tidak harus selalu sesuatu yang berat-berat, seperti topik politik atau gonjang-ganjing korupsi. Kebiasaan membaca bisa dimulai dari membaca sesuatu yang ringan seperti komik, sampai membaca novel yang bisa mencapai puluhan bab. Seperti kata pepatah, sedikit sedikit lama lama jadi bukit

Itu dia manfaat dari membaca, masih males buat baca buku?  Udah pada melek kan, tapi masih pada bingung gimana caranya buat suka baca, ada beberapa langkah buat kita biar bisa jadi pencinta buku. Ini dia beberapa langkanhnya, pertama, mulailah membaca hal hal yang kamu sukai, entah itu komik, cerpen, artikel, puisi ataupun novel. Dari situ bakalan tumbuh minat membaca, kemudian jika sudah terbiasa cobalah untuk membaca buku buku yang lebih berat, seperti buku pelajaran dan jurnal ilmiah. Kemudian biasakan mencatat setiap hal penting dan menarik dari sebuah buku.

Nah kalau udah mulai terbisa membaca, ayo sekarang kita menulis.

Menulis dan membaca sebenarnya memiliki hubungan yang sangat erat, ibaratkan dua sisi pada koin.  Kita hanya bisa menulis jika kita pernah membaca, dan kita hanya bisa membaca jika ada orang yang pernah menulis. Proses membaca dan menulis memang saling mengisi satu sama lain. Kedua proses tersebut memiliki korelasi yang tidak bisa dipisahkan. Untuk bisa menulis dengan hasil yang bagus setidaknya seseorang harus banyak membaca buku. Jadi sebenarnya kedua hal ini saling berhubungan. Membaca adalah proses mengumpulkan informasi dan data untuk kemudian kita tuangkan kedalam tulisan. Jika allah pernah berfirman kepada nabi,” bacalah” maka untuk sebuah keberlansungan firmannya kita harus mulai menulis, maka “tulislah”.

Sebenarnya otak kita tidak akan mampu untuk mengingat dan menghafal Semua ilmu pengetahuan dan informasi yang kita dapatkan, karena sebagaiman fitrahnya, manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Maka dari itu kita harus mencatat hasil bacaan kita agar tetap terkenang, sebagaimana ucapan Sayyidina Ali bin Abi Thalib. “Ikatlah ilmu dengan menulis”.

Tapi pada kenyataannya dikalangan mahasiswa kegitan menulis masih merupakan sesuatu hal yang sulit. Kegiatan ini sangat menjengkelkan untuk mahasiswa yang tidak suka menulis. Pikiran mereka sudah terdoktrin kalau menulis itu sulit. Kelaupun pun menulis, mungkin hanya dilakukan ketika ujian saja (menulis di kertas ujian dengan tulisan tangan).  Menulis esai pun jarang, menuliskan gagasan sendiri juga, apalagi jika harus dipaksa menuliskan solusi dari masalah yang ada. Para mahasiswa kebanyakan menulis hanya untuk menggugurkan kewajiban, seperti mengerjakan makalah, tugas akhir ataupun tugas individu. Ini menunjukkan bahwa mahasiswa masih belum mengerti urgensi daripada menulis.

Padahal nantinya di akhir masa perkuliahan setiap mahasiswa harus menghasilkan sebuah karya ilmiah , yaitu SKRIPSI. Skripsi tentulah berbeda dengan tulisan biasa. Penulisan skripsi harus melalui beberapa tahapan. Seperti proses penggodokan ide, pengajuan proposal skripsi, menentukan variabel-variabel, menyusun dan menyebarkan kuesioner, mengolah data statistik dan menarik kesimpulan. Belum lagi proses menulisnya, penulisan skripsi mengikuti kaidah ilmiah yang baku dan kaku.

Nah, kalau kita sudah tahu hal itu akan kita lakoni, mau tidak mau kita harus bisa menulis. Namun memang untuk mulai menulis itu bukan hal yang mudah, seperti halnya membalikkan telapak tangan. Memulai menulis mungkin akan membuat mu terdiam di hadapan sebuah kertas putih atau laptop, akan membuatmu pusing dan menggerutkan dahi, tapi tenang nulis ga bakalan bikin mati ko. heheh

Ada beberapa hal yang menghambat teman-teman mahasiswa untuk menulis, biasanya penyebab ini sangat umum. Misalnya takut tulisan dibilang jelek, bingung mau menulis apa, bingung memulai dari mana. Jadinya, takut untuk memulai dan tidak pernah memulai

Manfaat menulis.

“Menulis itu sebenarnya sama dengan berbicara, hanya saja itu kau catat.”  Itulah kata kata bijak yang dkatakan oleh Helvy Tiana Rosa “.Kalau temen temen  maknai sebenernya menulis itu mudah, menulislah seolah olah kita sedang berbicara atau bercerita, hanya saja coba tuangkan dia atas kertas atau di depan laptop. Coba untuk mencurahkan setiap apa yang ingin kita ucapkan kedalam bentuk tulisan. Mungkin bisa dimulai dari menulis buku harian, tentang kejadian yang kita alami. Ajaklah penamu berbicara kawan.

Seorang pemikir besar pun tidak lepas dari kebiasaan kecilnya yaitu menulis buku harian. Kita bisa lihat sosok Soe Hok Gie yang punya kebiasaan menulis catatan harian. Atau mungkin Ahmad Wahib, seorang aktivis yang juga menunjukkan dinamika berpikirnya lewat buku diary. Meski mereka telah tiada, namun alur pemikirannya masih bisa diketahui lewat tulisan-tulisan mereka.

Penyair Kuntowijoyo pernah mengatakan, syarat untuk bisa menulis tak lain adalah menulis, menulis dan menulis. Dimana? Tidak perlu berpikir besar, kampus kita sudah menyediakan wadahnya. Ada majalah ta’dib, suara muhammadiyah, juga majalah kita ini.  atau buletin yang dimiliki banyak fakultas dan jurusan. Bukankah ini wadah untuk berkreasi yang cukup baik? Kalau mau kita juga bisa mulai lewat weblog gratis. Ada blogger.com oleh Google, wordpress.com atau kompasiana.com.

Kalau tidak dibiasakan, mau mulai kapan lagi? Ayo, membaca dan menulis!

Artikel ini bersumber dari member Kompasiana a.n Wahyu Rosyid

Advertisements

2 comments on “Bukan Mahasiswa Kalau Tidak Mau Membaca dan Menulis

  1. Sebelumnya terimakasih atas postingan hari ini… ini sangat menginspirasi saya untuk lebih sering membaca dan menulis.

    Saya sering menghabiskan waktu saya di depan LCD (60% setiap hari selain tidur), karena itu adalah pekerjaan saya. Saya mau tanya bagaimana cara menghilangkan rasa malas dalam membaca ketika di dapan LCD?
    Untuk menulis sendiri saya suka menulis, tapi kendala utama yaitu tadi malas membaca jadi inspirasi yang sering di tuangkan dalam tulisan terhambat.

    Like

    • hal yang paling mendasar dari suatu masalah adalah “malas”. Kita malas membaca karena kita beranggapan bahwa informasi yang kita terima belum tentu bermanfaat untuk kita. Sebagai cara belajar kita agar dapat membudayakan membaca, kita awali dengan membaca apa yang kita sukai, dengan begitu terus menerus, setidaknya rasa malas membaca itu mulai terkikis. Dulu, saya bukan orang yang suka membaca, sejak SMP, SMK/SMA, saya paling tidak bisa untuk disuruh membaca. Kemudian sejak masuk kuliah, saya coba beli buku-buku materi kuliah, saya baca sedikit demi sedikit. Nyoba baca ebook yang bahasa asing, walau cuma dilihat dibuka-buka saja, tetapi itu awal yang baik. Ada tugas kuliah, cari referensi, ya petunjukknya saya dapat dari buku. Dari situ saya berfikir, membaca buku itu lebih besar manfaatnya daripada membaca informasi di internet. Setiap bulan waktu itu saya sempatkan beli 1-2 buku. Jadi dirumah ada perpustakaan kecil yang berisi buku-buku kompetensi saya. Siapa tahu nanti dapat diwariskan pada anak-anak saya. Menarik kan? padahal hanya kata “BUDAYA MEMBACA”. Thats All.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s